Minggu, 04 Februari 2018

Bendungan Ir. Masyono - Peninggalan Belanda

Desa Curug, Kecamatan Bojongsari, Depok ini merupakan tempat  yang cukup indah dimana di sana terdapat waduk kecil dengan bendungan bersejarah (Bendungan  Ir. Masyono  tahun  . . . ) peninggalan zaman Belanda yang mengairi lahan pertanian dan juga membagi air ke sungai menuju Jakarta dan menuju Bumi Serpong Damai, Tangsel (BSD).

Foto pintu air saat dikuras yang meuju sungai Angke ke arah Jakarta (Muara Angke)

Foto-foto Bendungan Ir. Masyono peninggalan Belanda saat air tak lagi mengalirinya karena bencana:

Musim hujan musim bencana, kali ini bencana menghantam jembatan batu di Desa Curug, Kecamatan Bojongsari, Depok. Bencana ini untuk yang kedua kalinya menimpa jembatan tersebut.

Bencana pertama menghantam sekitar 3 tahun lalu, yang saat itu jembatan masih merupakan jembatan terbuat dari kayu. Bencana itu menghancurkan jembatan dan lahan pertanian penduduk  akibat terjangan air Sungai Angke yang melintas di Desa Curug hingga ke Muara Angke di Jakarta.

Tampak di foto tersebut, bencana ini belum mengakibatkan hancurnya jembatan batu yang selesai dibagun namun baru melongsorkan lahan pertanian dan menjebolkan tanggul  sungai Angke.

Kejadian ketiga menimpa setahun lalu saat musim hujan 2013. Bencana ini menghancurkan jembatan batu yang belum lama selesai dibagun akibat hancur bencana pertama. Namun sayang bencana setahun lalu itu merupakan bencana yang cukup luamayan parah. Bencana itu melongsorkan lahaan pertanian, melebarkan aliran sungai dan menghantam keras jembatan batu tersebut hingga luluh lantak dan akhirnya terbengkalai hingga setahun ini.




oleh: www.kakzulfa.blogspot.com

Sejarah Kota Depok

Sejarah Depok dari massakemassaKota Depok yang dikenal sebagai kota belimbing, adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, terletak diantara kota Jakarta dan Bogor. Secara geografis Kota Depok terletak pada koordinat 6o 19’ 00” – 6o 28’ 00” Lintang Selatan dan 106o 43’ 00” – 106o  55’ 30” Bujur Timur. Kata Depok, konon berasal dari kata bahasa Sunda yang berarti pertapaan atau tempat bertapa. Namun ada yang menyebutkan bahwa kata DEPOK berasal dari sebuah nama Padepokan Kristiani yang bernama De Eerste Protestante Organisatie van Christenen.
Semboyan mereka Deze Einheid Predikt Ons Kristus juga disingkat Depok. Atau ada juga yang mengatakan akronim dari De Eerste Protestants Onderdaan Kerk yang artinya adalah Gereja Kristen Rakyat Pertama.Depok Zaman PrasejarahPenemuan benda bersejarah di wilayah Depok dan sekitarnya menunjukkan bahwa Depok telah berpenghuni sejak zaman prasejarah. Penemuan tersebut itu berupa Menhir “Gagang Golok”, Punden berundak “Sumur Bandung”, Kapak Persegi dan Pahat Batu, yang merupakan peninggalan zaman megalit. Juga penemuan Paji Batu dan sejenis Beliung Batu yang merupakan peninggalan zaman Neolit.
Depok Zaman Padjajaran Pada abad ke-14 Kerajaan Padjajaran diperintah seorang raja yang diberi gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan, yang lebih dikenal dengan gelar Prabu Siliwangi. Di sepanjang Sungai Ciliwung terdapat beberapa kerajaan kecil di bawah kekuasaan kerajaan ini, diantaranya Kerajaan Muara Beres.
Sampai Karadenan terbentang benteng yang sangat kuat sehingga mampu bertahan terhadap serangan pasukan Jayakarta yang dibantu Demak, Cirebon dan Banten.Depok berjarak sekitar 13 km sebelah utara Muara Beres. Jadi wajar apabila Depok dijadikan front terdepan tentara Jayakarta saat berperang melawan Padjajaran. Hal itu dibuktikan dengan:
Masih terdapatnya nama-nama kampung atau desa yang menggunakan bahasa Sunda antara lain Parung Serang, Parung Belimbing, Parung Malela, Parung Bingung, Cisalak, Karang Anyar dan lain-lain.
Dr. NJ. Krom pernah menemukan cincin emas kuno peninggalan zaman Padjajaran di Nagela, yang tersimpan di Museum Jakarta.
Tahun 1709 Abraham Van Riebeck menemukan benteng kuno peninggalan kerajaan Padjajaran di Karadenan.
Di rumah penduduk Kawung Pundak sampai sekarang masih ditemukan senjata kuno peninggalan zaman Padjajaran. Senjata ini mereka terima turun-temurun.